Kabar Tangerang – Industri hilirisasi mineral Indonesia terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah pemerintah mendorong penghentian ekspor bahan mentah dan memperkuat pembangunan fasilitas pengolahan di dalam negeri. Di tengah dinamika tersebut, terdapat sejumlah figur yang bekerja jauh dari sorotan publik, salah satunya Ferry Kadi.
Nama Ferry Kadi memang tidak terlalu populer di ruang publik. Jejak digitalnya minim, nyaris tidak ditemukan aktivitas personal di media sosial, dan ia jarang tampil dalam forum terbuka maupun wawancara media. Namun dalam dunia industri mineral, Ferry pernah memegang sejumlah posisi strategis di perusahaan yang berkaitan dengan bisnis bauksit dan alumina milik jaringan Harita Group.
Ferry tercatat pernah menjabat sebagai Direktur PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) pada 2019. Perusahaan tersebut bergerak di sektor pertambangan bauksit dan menjadi bagian dari kelompok usaha Harita Group. Selain itu, Ferry juga pernah duduk sebagai Direktur PT Well Harvest Winning Alumina Refinery (WHW), perusahaan pengolahan alumina yang memiliki peran penting dalam rantai hilirisasi mineral nasional.
Peran WHW cukup signifikan dalam pengembangan industri pengolahan mineral di Indonesia. Kehadiran fasilitas refinery alumina memungkinkan hasil tambang bauksit diolah lebih lanjut di dalam negeri sebelum masuk ke pasar global. Kondisi ini dinilai mampu meningkatkan nilai tambah komoditas mineral Indonesia dibanding hanya menjual bahan mentah.
Di tengah meningkatnya kebutuhan aluminium dunia untuk sektor manufaktur hingga energi, industri bauksit dan alumina Indonesia juga mengalami pertumbuhan cukup pesat. Perusahaan yang bergerak di sektor pengolahan pun menjadi bagian penting dalam peta industri nasional.
Meski berada di lingkar bisnis strategis tersebut, Ferry dikenal sebagai figur korporasi yang tertutup. Informasi mengenai dirinya sebagian besar hanya muncul dalam dokumen perusahaan, laporan tahunan, dan data pasar modal.
Karakter itu dinilai berbeda dengan tren sejumlah eksekutif perusahaan saat ini yang aktif membangun personal branding di media sosial maupun ruang publik. Ferry justru lebih dikenal sebagai sosok yang fokus bekerja di balik layar dan mengelola operasional bisnis perusahaan.
Dari sisi pendidikan, Ferry memiliki latar belakang akademik dari Amerika Serikat. Ia meraih gelar Bachelor of Art serta Master of Business Administration (MBA) bidang Management & Marketing dari California State University, Bakersfield.
Perjalanan kariernya dimulai melalui jalur manajerial dan operasional. Pada 2003 hingga 2008, Ferry menjabat sebagai Marketing Manager sebelum kemudian dipercaya menjadi General Manager di PT Tirta Mahakam Resources Tbk pada periode 2008–2013.
Kariernya berlanjut di lingkungan bisnis Cita Mineral. Sebelum menduduki kursi direksi, Ferry sempat memegang jabatan Head of Operations dan terlibat dalam pengelolaan operasional perusahaan. Pada 2019, ia resmi diangkat menjadi Direktur melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa.
Dalam posisinya tersebut, Ferry memiliki tanggung jawab terhadap berbagai sektor perusahaan, mulai dari operasional bisnis, strategi pemasaran, pengembangan relasi usaha, hingga pengawasan sumber daya manusia dan program tanggung jawab sosial perusahaan.
Walau tidak banyak tampil di depan publik, posisi Ferry menunjukkan keterlibatannya dalam salah satu sektor yang kini menjadi fokus utama pemerintah, yakni hilirisasi mineral. Industri bauksit dan alumina sendiri diproyeksikan terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan industri aluminium global.
Hingga kini, Ferry Kadi tetap dikenal sebagai figur yang memilih berada di balik layar. Namun minimnya sorotan publik tidak mengurangi posisinya sebagai salah satu nama yang pernah berada di lingkar strategis bisnis pengolahan mineral Indonesia.
